Pages - Menu

Sabtu, 11 Oktober 2014

Kenangan Masa lalu

    Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, perasaan baru kemarin saya masuk Paskibra SMAN 3 Banjar sekarang saya telah meninggalkan organisasi kebanggaan saya, disana saya mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat terutama bagi kehidupanku sekarang.
    yang masih teringat dalam hidup saya selama saya mengikuti organisasi paskibra, saya bersaing dan berjuang dengan rekan, antar organisasi, antar sekolah, bahkan antar kota. serta rasa ingin membangun demi nama baik organisasi dan sekolah.
     disana saya mempunyai pelatih dan senior yang mempunyai jiwa besar untuk senantiasa membimbing, melatih, dan mendidik junior"nya supaya menjadi orang" yang tangguh dan pantang menyerah. saya ucapkan terimakasih kepada senior, pelatih serta pembina yang telah mendidik saya selama saya mengikuti organisasi paskibra.
      Tak lupa kepada junior" yang sampai sekarang masih aktif dan masih berjuang, tetaplah semangat jangan mengeluh, serta jangan merasa tak berguna atau bermanfaat mengikuti organisasi paskibra. karna yang saya rasakan didikan paskibra sangatlah bermanfaat bagi kehidupan kita, terutama kehidupan bermasyarakat dan di dunia kerja.!!!!
      Semoga curhatan pendek ini bisa menjadi motifasi bagi para ayi" untuk tetap semangat.
Salam paskibra....!!!! "THRE BUANA GARUDA CHAKTI"

Jumat, 21 Juni 2013

Sejarah Sang Saka Merah Putih

Dalam sejarah Indonesia terbukti, bahwa Bendera Merah Putih dikibarkan pada tahun 1292 oleh tentara Jayakatwang ketika berperang melawan kekuasaan Kertanegara dari Singosari (1222-1292). Sejarah itu disebut dalam tulisan bahwa
Jawa kuno yang memakai tahun 1216 Caka (1254 Masehi), menceritakan tentang perang antara Jayakatwang melawan R. Wijaya.

- Prapanca di dalam buku karangannya Negara Kertagama mencerirakan tentang digunakannya warna Merah Putih dalam upacara hari kebesaran raja pada waktu pemerintahan Hayam Wuruk yang bertahta di kerajaan Majapahit tahun 1350-1389 M. Menurut Prapanca, gambar-gambar yang dilukiskan pada kereta-kereta raja-raja yang menghadiri hari kebesaran itu bermacam-macam antara lain kereta raja puteri Lasem dihiasi dengan gambar buah meja yang berwarna merah. Atas dasar uraian itu, bahwa dalam kerajaan Majapahit warna merah dan putih merupakan warna yang dimuliakan.

- Dalam suatu kitab tembo alam Minangkabau yang disalin pada tahun 1840 dari kitab yang lebih tua terdapat ambar bendera alam Minangkabau, berwarna Merah Putih Hitam. Bendera ini merupakan pusaka peninggalan jaman kerajaan
Melayu-Minangkabau dalam abad ke 14, ketika Maharaja Adityawarman memerintah (1340-1347). Warna Merah = warna hulubalang (yang menjalankan perintah) Warna Putih = warna agama (alim ulama) Warna Hitam = warna
adapt Minangkabau (penghulu adat) - Warna merah putih dikenal pula dengan sebutan warna Gula Kelapa. Warna Merah Putih disebut Gula Kepala tidak
berarti “Merah” lambing gula dan “Putih” lambing buah nyiur yang telah dikupas. Di Kraton Solo terdapat pusaka berbentuk bemdera Merah Putih peninggalan Kyai Ageng Tarub, putra Raden Wijaya, yang menurunkan raja-raja Jawa.

- Dalam babat tanah Jawa yang bernama babab Mentawis (Jilid II hal 123) disebutkan bahwa Ketika Sultan Ageng berperang melawan negri Pati. Tentaranya bernaung di bawah bendera Merah Putih “Gula Kelapa”. Sultan
Ageng memerintah tahun 1613-1645.

- Juga di bagian lain dari kepulauan Indonesia terdapat bendera yang berwarna Merah Putih, misalnya di Aceh, Palembang, Maluku dan sebagainya meskipun sering dicampuri gambar-gambar lain.

- Pada umumnya warna Merah Putih merupakan lambing keberanian, kewiraan sedangkan warna Putih merupakan
lambing kesucian.

- MERAH PUTIH DALAM ABAD XX


- a. Bendera Merah Putih berkibar untuk pertama kali dalam abad XX sebagai lambang kemerdekaan ialah di benua Eropa. Pada tahun 1922 Perhimpunan Indonesia mengibarkan bendera Merah Putih di negeri Belanda dengan kepala
banteng ditengah-tengahnya.

- Tujuan perhimpunan Indonesia Merdeka semboyan itu juga digunakan untuk nama majalah yang diterbitkan.

- Pada tahun 1924 Perhimpunan Indonesia mengeluarkan buku peringatan 1908-1923 untuk memperingati hidup perkumpulan itu selama 15 tahun di Eropa. Kulit buku peringatan itu bergambar bendera Merah Putih kepala banteng.

- Dalam tahun 1927 lahirlah di kota Bandung Partai Nasional Indonesia (PNI) yang mempunyai tujuan Indonesia Merdeka. PNI mengibarkan bendera Merah Putih kepala banteng.

- Pada tanggal 28 Oktober 1928 berkibarlah untuk pertama kalinya bendera ,erah Putih sebagai bandera kebangsaan yaitu dalam Konggers Indonesia Muda di Jakarta. Sejak itu berkibarlah bendera kebangsaan Merah Putih di seluruh
kepulauan Indonesia.

- SANG SAKA MERAH PUTIH DI BUMI INDONESIA MERDEKA

- Pada tanggal 17 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta bertempat di Pegangsaan Timur 56 (JL.Proklamasi) Jakarta, atas nama bangsa Indonesia. Sesaat kemudian bendera kebangsaan Merah Putih dikibarkan di gedung Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Bendera Merah Putih berkibar ntuk pertama kalinya di bumi Indonesia Merdeka.

- a. Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang dibentuk pada tanggal 9 Agustus 1945 mengadakan siding yang pertama dan menetapkan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia yang kemudian dikenal sebagai Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945). b. Dalam UUD 1945, Bab I, pasal I, ditetapkan bahwa Negara Indonesia ialah Negara kesatuan yang berbentuk Republik. Dalam UUD 1945 pasal 35 ditetapkan pula http://www.pramukanet.org - pramukanet.org Powered by Mambo Generated:12 July, 2009, 14:49 bahwa bendera Negara Indonesia ialah Sang Merah Putih. Denagn demikian itu, sejak ditetapkannya UUD 1945 , Sang Merah Putih merupakan bendera kebangsaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

- Dengan ditetapkannya UUD 1945 dan bendera kebangsaan Sang Merah Putih, maka serntak seluruh rakyat Indonesia dan pemuda Indonesia, menegakkan, mengibarkan dan mempertahankan Sang Merah Putih di bumi Indonesia. Pertempuran-pertempuran dengan serdadu colonial Belanda yang didukung oleh tentara sekutu berkobar di seluruh Indonesia. Ribuan rakyat dan pemuda Indonesia gugur sebagai pahlawan bangsa mempertahankan kemerdekaan Sang Merah Putih. Karena pengorbanan mereka kini Sang Merah Putih tegak berkibar dibumi Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang merdeka dan berlandaskan Pancasila.

- a. Sang Merah Putih dikibarkan pada Hari Proklamasi tanggal 17 Agustus 45 di gedung Pegangsaan Timur 56 Jakartadisebut Bendera Pusaka. Bendera Pusaka itu selalu dikibarkan di tiang yang tingginya 17 m di depan Istana Merdeka Jakarta pada tiap perayaan peringatan Hari Prokalamasi Kemerdekaan.

- Mulai tahun 1969 Bndera Pusaka itu tidak lagi dapat dikibarkan karena sudah tua. Sebagai gantinya dikibarkan duplikatnya yang dibuat dari sutera alam Indonesia.

- Dalam sejarah perjuangan kemrdekaan Indonesia, Bendera Pusaka tidak pernah jatuh ke tangan musuh, meskipun tentara colonial Belanda menduduki Ibukota Negara Republik Indonesia.

Minggu, 16 Juni 2013

makna lambang PPI dan Kota Banjar



1.Lambang Purna Paskibraka Indonesia



















Makna dari lambang tersebut adalah :

Lambang berupa bunga teratai yang tumbuh dari lumpur (tanah) dan berkembang di atas air, hal ini bermakna bahwa anggota Paskibraka adalah pemuda dan pemudi yang tumbuh dari bawah (orang biasa) dari tanah air yang sedang berkembang dan membangun.

Bunga teratai berdaun bunga 3 (tiga) helai tumbuh ke atas (mahkota bunga), bermakna belajar, bekerja, dan berbakti.

Bunga teratai berkelopak 3 (tiga) helai mendatar bermakna aktif, disiplin, dan gembira.

Mata rantai berkaitan melambangkan persaudaraan yang akrab antar sesama generasi muda Indonesia yang ada di berbagai pelosok penjuru (16 penjuru arah mata angin) tanah air.

Rantai persaudaraan ini tanpa memandang asal suku, agama, status sosial, dan golongan, akan membentuk jalinan mata rantai persaudaraan yang kokoh dan kuat. Sehingga mampu menangkal bentuk pengaruh dari luar dan memperkuat ketahanan nasional, melalui jiwa dan semangat persatuan dan kesatuan yang telah tertanam dalam dada setiap anggota Paskibraka.
















2.Arti Lambang/Logo Kota Banjar






1) Lambang Daerah berbentuk Tameng/Perisai, dengan warna dasar biru muda yang di dalamnya terdapat gambar, warna dan bentuk serta dibagian atas terdapat tulisan “ KOTA BANJAR ” dan di bagian bawah terdapat tulisan “ SOMAHNA BAGJA DI BUANA” DENGAN WARNA HURUF PUTIH ;


(2) Lambang Daerah Kota Banjar terdiri dari 2 (dua) bagian dengan perincian sebagai berikut :


A. BAGIAN DEPAN ATAU ISI DARI ATAS KE BAWAH TERDIRI DARI :


1. Gambar Bintang

- Diambil dari Pancasila, sila pertama yang berbunyi “Ke Tuhanan Yang Maha Esa” simbol ini dipakai berdasarkan cita-cita masyarakat Banjar yang berkeinginan agar Kota Banjar menjadi kota religius.

- Bintang juga merupakan simbol dari semua agama dan memiliki arti kewenangan atau kesuksesan.


2. Tulisan Kota Banjar

Menunjukan sebutan bagi Kota dan Pemerintahan Kota Banjar.

3. Benteng Kembar

- Melambangkan Pertahanan sekaligus pintu gerbang Kota Banjar.

- Tonjolannya masing-masing ada 5 (lima ) melambangkan lima Dasar Pokok Negara “PANCASILA”

1. Ke Tuhanan Yang Maha Esa

2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

3. Persatuan Indonesia

4. Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permuryawaratan/Perwakilan.

5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

- Bagian pilar yang pendek berjumlah 4 (empat), pilar yang panjang (menonjol) berjumlah 5 (lima), bermakna tahun 45 Kemerdekaan Republik Indonesia.

- Masing-masing terdiri dari 9 (sembilan) pilar merupakan angka tunggal tertinggi/terbesar yang mengandung simbol keberuntungan dan kesuksesan.

- Angka sembilan merupakan simbol sembilan tokoh agama yang sangat termashur yang menjadi panutan umat yang terkenal dengan isitilah “Wali Songo”.

- Kembar kiri-kanan bermakna keseimbangan hidup phisik dan pshikis.




4. Kujang

- Merupakan senjata Tradisional Tatar Sunda.

- Jika perlu dapat dipergunakan sebagai alat penjaga diri. 5 (lima) lubang melambangkan Lima Dasar Pokok Negara “Pancasila”.




5. Dua Gunung

- Melambangkan Gunung Babakan dan Gunung Sangkur.

- Kota Banjar memiliki 2 (dua) Gunung yaitu Gunung Babakan dan Gunung Sangkur yang merupakan simbol kekuatan masyarakat Kota Banjar dari segala guncangan dan gangguan serta teguh pada pendirian untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.

6. Sawah dan Ladang

- Merupakan simbol kemekmuran dan kesuburan Kota Banjar, sebagai dampak positif dari kehidupan masyarakat yang rajin, dinamis, optimis dan tidak kenal menyerah.

- Jumlah 21 (dua puluh satu) menyatakan hari ke-21 (dua puluh satu) dari bulan berdirinya Kota Banjar.




7. Sungai dan Irigasi

- Kota Banjar memiliki Sungai Citanduy sebagai sumber air yang sangat besar.

- Irigasi sebagai sumber sarana penunjang kesuburan yang berdampak pada kemakmuran


8. Jembatan, Dam/Bendungan

- Dilambangkan dengan 2 (dua) bentuk gambar yang menyatakan bulan ke-2 (dua) dari tahun berdirinya Kota Banjar.

- Jembatan sebagai penunjang/sarana untuk kelancaran transportasi.

- Dam/Bendungan sebagai sarana untuk kelancaran irigasi.

9. Roda Bersayap

- Melambangkan Kota Transit yang harus berkembang seimbang terutama di sektor perekonomian yang meliputi perdangan dan transportasi.

- Jari-jari berwarna merah berjumlah 22 (dua puluh dua) melambangkan 22 (dua puluh dua desa).

- Sayap berjumlah 4 (empat) kecamatan.


10. Padi Kapas

- Melambangkan sandang pangan sebagai kebutuhan Pokok serta sebagai simbol subur makmur.

- Jumlah padi 17 (tujuh belas) menyatakan hari ke-17 (tujuh belas) dari bulan Proklamasi. – Jumlah kapas 8 (delapan) menyatakan bulan ke-8 (delapan) dari tahun Proklamasi.


11. Tulisan/Motto “SOMAHNA BAGJA DI BUANA”

- Kalimat “ SOMAHNA BAGJA DI BUANA ” mengandung makna yang sangat dalam sebagai tujuan dan harapan yang ingin dicapai masyarakat Kota Banjar.

- Hurufnya berjumlah 19 (sembilan belas) digabung dengan pilar berjumlah 4 (empat) dan 5 (lima) bermakna tahun 1945 yaitu Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

- Kata-katanya diambil dari Bahasa sunda yang berarti sebagai berikut :

- Somah berarti rakyat, masyarakat, Somahna berarti rakyatnya, masyarakatnya.

- Bagja berarti sugema, berarti bahagia lahir bathin.

- Di Buana berarti di dunia (di Kota Banjar).

- SOMAHNA BAGJA DI BUANA , makna yang sebenarnya ‘ masyarakat Kota Banjar bahagia lahir bathin ”, makna yang lebih dalam adalah “ Masyarakat Banjar Harus Menjadi Tuan Di Kotanya Sendiri ”.




B. BAGIAN DASAR ATAU BINGKAI/WADAH


Bentuk dasar diambil dari bentuk tameng/perisai yang sudah distilasi (penyederhanaan bentuk).

Tameng adalah suatu alat untuk melindungi seseorang dari serangan musuh yang sudah dibuktikan keampuhannya terutama zaman dahulu saat dipakai oleh laskar-laskar kerajaan.

Begitu juga pada logo ini tameng dimaksudkan sebagai bingkai atau wadah untuk melestarikan atau melindungi simbol-simbol kehidupan masyarakat Kota Banjar.




Warna dalam Lambang Daerah mempunyai arti sebagai berikut :

1. Warna biru muda sebagai gambaran masyarakat Kota Banjar yang cinta damai, dinamis dan optimis.

2. Warna kuning mengandung arti keemasan atau kejayaan dan kemenangan aatu kemakmuran.

3. Warna hijau bermakna subur.

4. Warna merah dan putih diambil warna Bendera Republik Indonesia sebagai simbol pemersatu antar etnis suku dan agama.

- Warna merah bermakna keberanian, semangat tidak kenal menyerah.

- Warna putih bermakna teguh dan kuat.

5. Warna hitam bermakna teguh dan kuat



Lagu Lagu paskibra

PAKITONG KITONG (ORIGINAL LYRICS)

Tong, tong, tong, tong pakitong-kitong

Alimango sa dagat

malaki at masarap!

Kay hirap hulihin
sapagkat nangangagat.

Tong, tong, tong, tong pakitong-kitong.
KESAYANGAN
Til…..til…..kutil, kecil mungil namanya Itik
Tol….tol…..botol, bulat lonjong namanya Kunci
Waktu ku kecil punyaku kecil, waktuku besar punyaku besar
Di elus-elus namanya kesayangan
Waktuku tidur punyaku tidur, waktuku bangun punyaku bangun
Di elus-elus namanya kesayangan

SI KINA
Sikina jamalika alenaja………
Sikina jamalika alenaja………
Alee…….. naja ale….. naja ale…. Naja alam Huuu Ha…..
Sikina jamalika
Sikina jamaliki
Alee…….. naja ale….. naja ale…. Naja alam Huuu Ha…..



SENJATA KITA
Senjata kita bulat lonjong
Lebih bulat lebih lonjong dari kuda
Siap bertempur diatas kasur
Musuh terlentang kita serang maju mundur



SITIJEM
Sitijem, butuh hiburan
Hidup di balkon, tolak-tolakan
Saringa, cengar-cengir aje
Busait, tilpun-tilpunan 



SUKA HATI
Kalo kau suka hati tepuk tangan
Kalo kau suka hati tepuk tangan
Kalo kau suka hati dan memangnya begitu
Kalo kau suka hati tepuk tangan
Kalo kau suka hati tepuk paha
Kalo kau suka hati tepuk paha
Kalo kau suka hati dan memangnya begitu
Kalo kau suka hati tepuk paha
Kalo kau suka hati injak bumi
Kalo kau suka hati injak bumi
Kalo kau suka hati dan memangnya begitu
Kalo kau suka hati injak bumi
Kalo kau suka hati teriak paskibra
Kalo kau suka hati teriak paskibra
Kalo kau suka hati dan memangnya begitu
Kalo kau suka hati teriak paskibra
Kalo kau suka hati semuanya (tepuk tangan, tepuk paha, injak bumi, teriak paskibra)
Kalo kau suka hati semuanya (tepuk tangan, tepuk paha, injak bumi, teriak paskibra)
Kalo kau suka hati dan memangnya begitu
Kalo kau suka hati semuanya (tepuk tangan, tepuk paha, injak bumi, teriak paskibra)



SUKA RIA
Dimalam, dimalam kita tidur
Dipagi, dipagi kita bangun
Diantara malam dan pagi kita terus berlatih membina fisik kita
Dalam arena PUSDIKLATSAR 07
Tenaga pikiran, kita curahkan dengan hati riang…………..
Suka ria, aha…..aha……
Suka ria, aha…..aha…… 




TAM-TAM-TAM
Tam-tam-tam kulit hitam
Kulitku jadi tambah hitam
Kata orang kaya Orang utan
Pacarku jadi ketakutan
Tam-tam-tam kulit hitam
Kulitku jadi tambah hitam
Kata orang kaya Michael Jordan
Pacarku jadi kebanyakan





TINGGALKAN AYAH TINGGALKAN IBU
Tinggalkan ayah tinggalkan ibu (ayah ibu)
Izinkan kami pergi berjuang (berjuang)
Dibawah kibaran merah putih (Merah putih)
Majulah, ayo maju menyerbu (serbu)
Tidak kembali pulang (tak kan pulang)
Sebelum Paskibra yang menang (pasti menang)
Walau mayat terdampar dimedan perang
Demi bangsa kurela berjuang (berjuang)
Maju……. Ayo maju……. Ayo terus maju……….
Seingkirkan dia………. Dia…….. dia……..
Kikis habislah mereka demi Negara Indonesia
Wahai kawanku, para remaja
Dimana saja berada….
Teruskan perjuangan para pahlawan
Demi bangsa kurela berjuang…… (berjuang)
Maju……. Ayo maju……. Ayo terus maju……….
Seingkirkan dia………. Dia…….. dia……..
Kikis habislah mereka demi Negara Indonesia
Wahai kawanku, para remaja
Dimana saja berada….
Teruskan perjuangan para pahlawan
Demi bangsa kurela berjuang…… (berjuang)






WAKTU KECIL
Waktu ku masih kecil
tak taunya ada yang menyentil
Kusentil –sentil, kusentil-sentil
Tak taunya eh..eh.. itu kutil
Waktu ku masih tolol
Tak taunya ada yang menyenggol
Kusenggol-senggol, kusenggol-senggol
Tak taunya eh..eh.. itu botol







WE WILL
We will….. we will rock you
We will….. we will rock you
Lihatlah kami datang untuk menghancurkanmu
Coba lihatlah kami berjuang dengan gigih
Demi kejayaan (hu..hu…ha)
Demi merah putih (hu..hu..ha)
Demi kejayaan (hu..hu…ha)
Demi merah putih (hu..hu..ha)
We will….. we will rock you
We will….. we will rock you
PASKIBRA……………..



SELAMAT DATANG
Selamat datang pasukan paskibra
Lama nian kami rindukan kamu
Bertahun-tahun berderai mata kini
Kita dapat berjumpa pula
Dengarlah dengan gegap gempita
Mengiringi gerak langkah paskibra
Hilangkan rindu pada ibumu
Selamat datang dikota tangerang.



SALA BELE
Sala bele-bele-bele
Sala bele obla-bla, obla-bla
Saria blem, blem, blem, blem



SATU MINGGU
Satu minggu kita sama-sama…
Tuk berbhakti pada nusa bangsa…
Dibina ditempa bersama…
Tuk jadi paskibra yang jaya…
Ha…ha…ha…
Walau berda suku dan agama…
Tapi satu semboyan paskibra…
Berani benar dan berhasil…
Tuk jadi paskibra yang jaya…
Ha…ha…ha…
Lala…4x
Hoho…4x
Lala…4x
Tuk jadi paskibra yang jaya…
Ha…ha…ha…





 







PASKIBRA BETAWI
Paskibra eh….eh….eh…. paskibra
Ngapain lo baris-baris aje
Paskibra eh….eh….eh…. paskibra
Ngapain lo baris-baris aje
Kalo lo ngaku anggota paskibra
Baris-baris udah biase
Kalo lo ngako anggota paskibra
Semuanye kudu serba bise



SELAMAT PAGI
Selamat pagi………. Selamat pagi
Kota Serang
Kami paskibra……… kami paskibra
Numpang lewat
Puuuntennn……………….
Satu ribu….. Satu ribu…..
Dua ribu….. Dua ribu…..
Tiga ribu….. Tiga ribu…..
Aku tak punya
Satu juta……..
Dua juta…….
Tiga juta…….
Uang jajanku



PADA HARI APA
Pada hari apa, kuturut siapa kemana
Hari apa istimewa, kududuk dimana
Kududuk samping siapa, yang sedang mengapa
Mengendarai apa, supaya apa jalannya………
Heeeeiiiii……………….
Tuk…tik…tak…tik…tuk….tik…tak…crot
Tuk…tik…tak…tik…tuk….tik…tak…crot







OTO BEMO
Oto bemo (bemo oto)
Tiga beroda (beroda tiga)
Tempat berhenti (berhenti di tempat)
Kota ditengah-tengah (ditengah-tengah kota)
Panggil nona (nona panggil)
Naik segera (segera naik)
Bilang nona (nona bilang)
Uang tidak punya (tidak punya uang)
Kaki jalan saja (jalan kaki saja)
Oh… kasihku (kasihku oh..)
Oh… sayangku (sayangku oh..)
Relakanlah (relakanlah)
Daku pergi (pergi daku)
Kekota serang (serang ke kota)
Dibikin item (item dibikin)
Dibikin jelek (jelek dibikin)
Tapi tetap keren (keren tapi tetap)
Tapi tetap ganteng (ganteng tapi tetap)




Nananana…
Na…nana…nananana… (na…nana…nanana…) 2x
Dolewak kala kala kajulahe 2x
Di woro wiri 2x
Mate sasa marisse 2x
Mangan telo gosong sama sama kulite 2x
Paskibra 2007, selalu bergembira
Dimanapun berada, selalu bergembira…
(Para paskibra 2x… siap sedia, hu… hah…) 2x








SELAMAT DATANG
Selamat datang pasukan paskibra
Lama nian kami rindukan kamu
Bertahun-tahun berderai mata kini
Kita dapat berjumpa pula
Dengarlah dengan gegap gempita
Mengiringi gerak langkah paskibra
Hilangkan rindu pada ibumu
Selamat datang dikota serang





JIKA BERBARIS
Jika berbaris jangan tengok kanan dan kiri
Ayunkan tangan biarkan tinggi
Badan ditegapkan pandangan mata lurus kedepan
Dengarlah aba-aba lihatlah kami putera
Puteri paskibra berhati baja tak kenal takut
Walaupun kini kami hidupnya ditempa
Tetaplah hati gembira
Majulah putera bangsa tegakkanlah
Badanmu, busungkanlah dadamu
Majulah ayo maju kuatkanlah jiwa dan ragamu



KAPAL SELAM
Kapal selam tangkinya bocor
Timbul tenggelam di perbatasan (hooooi) 2x
Buat apa susah hati, susah hati
Buat apa sedih hati, sedih hati
Paskibra tak pernah bersedih
Hanya dongkol dalam hati
Putih-putih pakaiannya, pakaiannya
Macam-macam atributnya, atributnya
Peci hitam dikepalanya
Teratai putih dipundaknya, hooi….hoi……..



KATAKAN PADAKU
Katakana padaku hai ayah ibu
Bagaimana caranya membuat aku
Dengar……dengar…. Anakku
Beginilah caranya membuat kamu
Goyang kekiri….. Heiiiii
Goyang kekanan… Heiiii
Semakin dalam semakin asik







MASA PENDIDIKAN
Masa di pendidikan membawa kenangan
Tak akan kulupakan sampai akhir jaman
Suka dan duka bersama teman-teman
Ku ingat selalu…..
Buat apa susah, buat apa sedih hati
Lebih baik bernyanyi dan berlari
Buat apa susah, buat apa sedih hati
Lebih baik bernyanyi dan berlari



LAGU BERLARI
Pagi-pagi berlari
Tinggalakan ayah ibu
Tinggalkan sijantung hati
Demi sang Merah putih
Heeeeyyy……… Heeeeyyy………
Heeeeeoooo……. Heeeeeoooo…….
Ma ma ma ma can you See??? (Ma ma ma ma can you See???)
Paskibra is number one
Paskibranya keren-keren
Seniornya lebih keren
Heeeeyyy……… Heeeeyyy………
Heeeeeoooo……. Heeeeeoooo…….



LAGU MAKAN
Bila makan telah siang telah tiba
Segera menuju ruang makan
Bangkitkan semangatmu paskibra
Siapkan perut untuk diisi
Jangan lupa habiskan nasi
Juga dengan lauk-pauknya
Sayur mayor juga disikat
Hindarkan bicara dengan teman



LANGKAH PANJANG
He…………… langkah panjang
Hari ini hari luar biasa
He…………… langkah panjang
Suara kami melayang di udara
Mari…..semua, mari berlari
Dengan langkah yang panjang
Itulah para pasukan, pasukan PASKIBRAKA
PPI tak akan kulupakan
Tempat berlatih bersama
Menggembleng diri, jiwa dan raga
Menjadi paskibra yang jaya…………….
Itulah harapan bangsa dan Negara
Menjadi paskibra yang jaya……………




Derap langkah
Derap langkah nan gagah perkasa
Seirama dan satu suara
Sambil bernyanyi lagu hura-hura
Itulah langkah pasukan kibraka
Ayun kakimu kiri dan kanan
Atur jarak jaga kerpaihan
Jangan sampai merusak barisan
Banjar dan shafnya harus di luruskan… 2x
Holesio manise
Gadis serang aduh manise
Mama tinggal di rumah
Bapak cari ABG
Holesio…sio maniseee…




FORGET TO ME
Saya tunggu engkau, saya tunggu engkau
Rupanya engkau forget to me
Saya taha sakit-sakit
Jungkir balik di paskibra
Rupanya engkau forget to me
Disini aku jadi tambah senang (cihuuuyyy……)
Andai aku burung aku lepas terbang
Cita-citaku ingin jadi paskibraka
Bangun pagi-pagi menuju medan latihan
Untuk mengikuti latihan dasar paskibra
Disinilah aku dibina dan ditempa
Para pelatih perkasa…………..
Mau makan jalan jongkok
Sudah makan lompat kodok
Dicaci dimaki dan dibentak-bentak
Wahai pelatihku betapa majam matamu
Wahai pelatihku betapa sayang padaku
Andaikan kau tahu isi dihatiku
Kucinta padamu………
Kusayang padamu……





DOLEWAH KICAK
Dolewah kicak waduk
Duka waduk saha
Anget keneh pisan santri mawa dodol
Dolewah kicak waduk
Duka waduk saha
Anget keneh pisan santri mawa dodol
Dolewah kicak waduk
Duka waduk saha
Anget keneh pisan santri mawa dodol





ENTELEMI – LEMI
Entelemi Lemi
Patula Pitu Palatol
Til tila tildo tol do


CITA-CITA
Dulu aku bercita-cita
Menjadi anggota paskibra
Berani tegap gagah perkasa
Tunaikan tugas yang mulia
Tegas, tegap penuh wibawa
Semangat yang tak kunjung padam
Berdiri tegap gagah perkasa
Tunaikan dengan penuh rasa bangga
Kini aku sedang ditempa
Untuk menjadi anggota paskibra
Lupa sanak, lupa saudara
Lupakan saja semuanya
Saya tahan sakit-sakit
Sampai masuk rumah sakit
Saya tahan menderita
Tiap hari kuditempa
Walau diriku ditempa hatiku selalu gembira
Gembira……. Gembira ………. Selamanya
Bergembira, senantiasa selalu gembira
Hilangkan lah rasa sedih sejauh-jauhnya
Rasa sedih, rasa susah
Tak ada gunanya
Berlatih dengan gembira
Paskibra yang jaya
Hiduplah paskibra angkatan 2011.




BERSERAGAM
Berseragam tampak gagah perkasa
Merah putih melingkar di lehernya
Dengan lambing gambar burung garuda
Coba terka siapa mereka
Berjalan seperti tentara muda
Bertingkah lagu terpuji slalu
Itu dia PASKIBRAKA namanya
Tunas bangsa Indonesia





AYAM PAEH
Ayam paeh, ayam paeh
Teu bisa dei kongkongorokan
There understood, there undesrstood
There handik miskin
Kokodi, kokoda



ANAK PASKIBRA
Anak paskibra, kerjanya baris tidak pernah lelah
Berbaris pun rapih tidak acak-acakan
Kalo baris ngacak kena banding… tu….. wa
Anak paskibra, tampang keren tidak menjadi nomor Satu
Tapi ketrampilan dan otak encer
Mampu berbaris dan juga banding… tu….wa
Ini bukan hanya cerita di TV saja
Lo kudu harus percaya
Awas kalo enggak
Anak paskibra, bikin temen-temen pada ngiri semua
Bikin orang-orang geleng kepala
Bikin akang teteh……. Sssttt……
Jadi heboh



Merdeka saudara 


 Merdeka saudara (Hayo,hayo)

Berjuang Bersama (Hayo,hayo)
Tanamkan di dadamu, Perjuangan tahun 45
Didalam Pertempuran tidak Pernah masuk koran
Mati dalam perang, Menjadi kebanggaan
Infanteri-infanteri hantu Rimba (hantu rimba)
Marinir-marinir hantu LAut (hantu laut)
kompaskhas-kompaskhas hantu di Udara
Pak Polisi hantu jalan raya
Paskibra hantu dilapangan







IZINKAN

Tinggalkan ayah tinggalkan ibu (ayah ibu) 

izinkan kami pegi berjuang (berjuang) 

dibawah kibaran Merah putih

majulah ayo maju Menyerbu (serbu)
tidak kembali pulang (tak kan Pulang)
Sebelum Paskibra yang menang (pasti menang)
Walau mayat terdampar di medan perang
demi bangsa kurela berjuang
Maju ayo maju ayo terus maju……..
Seingkirkan dia , dia, dia
kikis habislah mereka
Semi negara indonesia
wahai kawan ku para remaja dimana saja berada….
Teruskan perjuangan para pahlawan demi bangsa….
Kurela berjuang!!!

 

 

 FORGET TO ME 

Saya tunggu engkau 3x

Rupanya engkau forget to me 2x
Rambate rata hayo tarik tambang
( ohuy…….)
Disini aku jadi tambah senang
( asyik……)
Andaikan aku burung
Aku akan terbang
Disinilah aku menjadi paskibra

Jumat, 14 Juni 2013

Sejarah PASKIBRAKA

Pembentukan Pasukan Pengerek Bendera Pusaka Tahun 1967 dan 1968


Tahun 1967, Hussein Mutahar dipanggil Presiden Suharto untuk menangani lagi masalah Pengibaran Bendera Pusaka. Dengan ide dasar dari pelaksanaan tahun 1946 di Yogjakarta, beliau kemudian mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3 kelompok, yaitu:


• Kelompok 17 / PENGIRING (PEMANDU)
• Kelompok 8 / PEMBAWA (INTI)
• Kelompok 45 / PENGAWAL


Ini merupakan simbol dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 (17-8-45). Pada waktu itu dengan situasi kondisi yang ada, beliau melibatkan putra daerah yang ada di jakarta dan menjadi anggota Pandu/Pramuka untuk melaksanakan tugas Pengibaran Bendera Pusaka.


Semula rencana beliau untuk kelompok 45 (pengawal) akan terdiri dari para Mahasiswa AKABRI (Generasi Muda ABRI). Usul lain menggunakan anggota Pasukan Khusus ABRI (seperti RPKAD, PGT, MARINIR dan BRIMOB) juga tidak mudah, akhirnya diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (PASWALPRES) yang mudah dihubungi dan sekaligus mereka bertugas di Istana Negara Jakarta.


Pengibar Bendera Pusaka pertama kali

Merah Putih tak akan berkibar 64 tahun yang lalu tanpa peran petugas pengibarnya. Jika sudahdemikian, tak akan pula bangsa ini menikmati kemerdekaannya.Tidak banyak yang mengenal sosok pengibar Sang Saka Merah Putih saat dibacakannya teks Proklamasi pada 17 Agustus 1945. Padahal, fotonya mudah ditemui di berbagai buku sejarah. Pria bercelana pendek itu tak lain Ilyas Karim.
Ilyas kini aktif sebagai Ketua Yayasan Pejuang Siliwangi Indonesia, sebuah
perkumpulan veteran, merupakan satu-satunya saksi sejarah detik-detik proklamasi yang masih hidup.
Kehidupan Ilyas yang pernah andil dalam berbagai misi penumpasan pemberontakan kurang mendapat perhatian pemerintah. Ia memang tidak mencari pengakuan penuh, tapi itu sudah seharusnya didapat pria yang juga pernah ikut dalam misi perdamaian Garuda II di Kongo, pada 1961 silam. “Dia (pemerintah) tahu, kami berjuang,” ujar Ilyas kecewa.
Meski demikian, Letnan Kolonel Purnawirawan ini tak ingin menuntut banyak. Ilyas hanya ingin menghabiskan masa tuanya dengan melihat kemerdekaan rakyat Indonesia. Ia berharap, generasi muda mau menghargai perjuangan para pahlawan dengan mengisi hidup lebih baik lagi.


SEJARAH BENDERA PUSAKA

1. Bendera Pusaka
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dikumandangkan pada hari Jum’at tanggal 17 Agustus 1945, pukul 10.00 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Setelah pernyataan kemerdekaan tersebut, untuk pertama kalinya secara resmi Bendera Kebangsaan Merah Putih dikibarkan oleh Latief Hendaningrat dan Suhud. S. Bendera tersebut merupakan hasil jahitan Ibu Fatmawati Soekarno dan selanjutnya bendera inilah yang disebut “Bendera Pusaka”Bendera Pusaka berkibar siang dan malam ditengah hujan, tembakan sampai Ibukota Republik Indonesia dipindahkan ke Yogyakarta pada tahun 1946.Pada tahun 1948 Belanda melancarkan agresi militernya. Pada waktu itu Ibukota RI berada di Yogyakarta, Bapak Husein Mutahar (Bapak Paskibraka-red) ditugaskan oleh Presiden Soekarno untuk menyelematkan Bendera Pusaka. (Penyelematan Bendera tersebut merupakan salah satu bagian dari sejarah untuk menegakan berkibarnya Sang Merah Putih di persada Ibu Pertiwi)Untuk menyelamatkan Bendera Pusaka tersebut terpaksa Bapak Husein Mutahar harus memisahkan antara bagian yang merah serta putihnya. Akhirnya dengan bantuan Ibu Perna Dinata benang jahitan diantara Bendera tersebut berhasil dipisahkan. Selanjutnya kedua bagian tersebut masing-masing di simpan sebagai dasar pada kedua tas Bapak Husein Mutahar yang selanjutnya tas tersebut diisi dengan pakaian serta perlengkapan pribadi miliknya. Hal ihwal Bendera tersebut dipisahkan, karena pada waktu itu beliau mempunyai pemikiran bahwa setelah dipisah Bendera tersebut tidak lagi dapat dikatakan Bendera karena hanya sebatas secarik kain. Hal ini dilakukan guna menghindari penyitaan dari pihak Belanda.Tak lama setelah Presiden menyerahkan Bendera Pusaka, Beliau ditangkap dan diasingkan oleh Belanda bersama Wakil Presiden beserta staf kepresidenan lainnya ke Muntok, Bangka Sumatera. Sekitar pertengahan bulan Juni 1948 Bapak Husein Mutahar menerima berita dari Bapak Soejono , isi pemberitahuan itu yakni adanya surat pribadi Presiden pada dirinya yang pada pokoknya Presiden memerintahkan Bapak Husein Mutahar guna menyerahkan kembali Bendera Pusaka kepada Beliau dengan perantaraan Bapak Soejono yang selanjutnya Bendera Pusaka tersebut dibawa serta diserahkan kepada Presiden ditempat pengasingan (Muntok, Bangka).Setelah mengetahui hal tersebut, dengan meminjam mesin jahit milik isteri seorang dokter, Bendera Pusaka yang terpisah menjadi dua bagian tersebut disatukan kembali persis pada posisinya semula, akan tetapi sekitar 2 cm dari ujung Bendera ada sedikit kesalahan jahit.Selanjutnya Bendera tersebut di serahkan kepada Bapak Soejono sesuai dengan isi surat perintah Presiden.

2. Pengibaran Bendera Merah Putih di Gedung Agung Yogyakarta
Menjelang peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke II (1946-red), Presiden memanggil salah seorang ajudan beliau, yaitu Bapak Mayor Laut (L) Husein Mutahar (yang kelak menyelamatkan Bendera Pusaka-red). Selanjutnya memberikan tugas untuk mempersiapkan dan memimpin upacara peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1946 di Halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta (pada tahun 1946 Ibukota RI berada di Yogyakarta-red).Pada saat itu Bapak Husein Mutahar mempunyai pemikiran bahwa untuk menumbuhkan rasa persatuan bangsa maka pengibaran Bendera Pusaka sebaiknya dilakukan oleh para pemuda se-Indonesia. Kemudian beliau menunjuk 5 orang pemuda yang terdiri dari 3 orang putera dan 2 orang puteri perwakilan daerah yang berada di Yogyakarta.Formasi pengibaran seperti ini dilakukan sampai dengan tahun 1948.Pada tanggal 6 Juli 1949 Presiden bersama Wakil Presiden tiba kembali di Yogyakarta dari Bangka (tempat pengasingan-red) dengan membawa kembali Bendera Pusaka. Tanggal 27 Desember 1949 dilakukan penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan di Negeri Belanda dan mengubah bentuk negara Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat dan menyerahkan kekuasaan di Jakarta. Sedangkan penyerahan kedaulatan dari Republik Indonesia kepada Republik Indonesia Serikat dilakukan di Yogyakarta.Tanggal 28 Desember 1949 Presiden kembali ke Jakarta guna memangku jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat. Setelah empat tahun ditinggalkan, Jakarta kembali menjadi Ibukota RI dan pada hari itu juga Bendera Pusaka juga dibawa ke Jakarta.Untuk pertama kali peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1950 diselenggarakan di Istana Merdeka, Jakarta. Bendera Pusaka Merah Putih berkibar dengan megahnya di tiang tujuh belas dan disambut dengan penuh kegembiraan oleh seluruh bangsa Indonesia.Regu-regu pengibar dari tahun 1950-1966 dibentuk dan diatur oleh Rumah tangga Kepresidenan.
3. Percobaan Pembentukan Pasukan Penggerek Bendera Pusaka Tahun 1967 dan Pasukan Pertama Tahun 1968
Pada tahun 1967 Bapak Husein Mutahar dipanggil oleh Presiden Soeharto untuk menangani lagi masalah Pengibaran Bendera Pusaka. Dengan ide dasar dari pelaksanaan tahun 1946 di Yogyakarta (5 orang-red), kemudian beliau mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3 (tiga) kelompok, yaitu : Kelompok 17/Pengiring (Pemandu), Kelompok 8/Pembawa (Inti), Kelompok 45/Pengawal. Ini merupakan simbol yang diambil dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945Pada saat itu dengan situasi dan kondisi yang ada, beliau melibatkan putra daerah yang ada di Jakarta dan menjadi anggota Pandu/Pramuka untuk melaksanakan tugas Pengibaran Bendera Pusaka.Semula rencana beliau untuk kelompok 45 (pengawal) akan terdiri dari para Mahasiswa AKABRI (Generasi Muda ABRI-red) , tetapi pada waktu itu libur perkuliahan dan transfortasi Magelang-Jakarta menjadi kendala, sehingga sulit untuk dilaksanakan.Usul lain untuk menggunakan pasukan elite ABRI (RPKAD, PGT, MARINIR, BRIMOB) juga tidak mudah. Akhirnya diambil dari Pasukan Pengawal Presiden (PASWALPRES) yang mudah dihubungi dan sekaligus mereka bertugas di Istana Jakarta.Tahun 1968, petugas Pengibar Bendera Pusaka adalah pemuda utusan propinsi. Tetapi belum seluruh propinsi mengirimkan utusan sehingga harus ditambah oleh ex-anggota pasukan tahun 1967.Tahun 1969 karena Bendera Pusaka kondisinya terlalu tua sehingga tidak mungkin untuk dikibarkan kembali, maka dibuatlah duplikat. Untuk dikibarkan di tiang 17 Meter Istana Merdeka, telah tersedia Bendera Merah Putih dari bahan Bendera (wool) yang dijahit 3 potong memanjang kain merah dan 3 potong memanjang kain putih kekuning-kuningan.Bendera Merah Putih duplikat Bendera Pusaka yang akan dibagikan ke daerah idealnya terbuat dari sutra alam dan alat tenun asli Indonesia, yang warna merah dan putihnya langsung ditenun menjadi satu tanpa dihubungkan dengan jahitan dan warna merahnya cat celup asli Indonesia.Pembuatan Duplikat Bendera Pusaka ini dilaksanakan oleh Balai Penelitian Tekstil Bandung dengan dibantu oleh PT Ratna di Ciawi Bogor. Dalam prakteknya pembuatan duplikat Bendera Pusaka, sukar untuk memenuhi syarat ideal yang ditentukan Bapak Husein Mutahar, karena cat asli Indonesia tidak memiliki warna merah yang standar dan pembuatan dengan alat tenun bukan mesin akan lama.Tanggal 5 Agustus 1969 di Istana Negara Jakarta berlangsung upacara penyerahan Duplikat Bendera Pusaka Merah Putih dan Reproduksi Naskah Proklamasi oleh Presiden Soeharto kepada Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I Seluruh Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar pada waktu upacara peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan di masing-masing daerah dapat dikibarkan duplikat Bendera Pusaka dan pembacaan Naskah Proklamasi bersamaan dengan Upacara Peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan yang dilakukan di Istana Merdeka, Jakarta. Selanjutnya kedua benda tersebut juga di bagikan ke Daerah Tingkat II serta perwakilan-perwakilan Republik Indonesia di luar negeri.Bendera Duplikat mulai dikibarkan menggantikan Bendera Pusaka pada Peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1969 di Istana Merdeka, sedangkan Bendera Pusaka bertugas mengantar dan menjemput Bendera Duplikat yang dikibarkan/diturunkan. Pada tahun itu juga resmi anggota PASKIBRAKA adalah remaja SMTA se-tanah air yang merupakan utusan dari tiap-tiap propinsi. Setiap propinsi di wakili oleh sepasang remaja.Pada tahun 1973 Bapak Idik Sulaeman melontarkan suatu nama untuk anggota Pengibar Bendera Pusaka dengan sebutan PASKIBRAKA. PAS akronim dari Pasukan, KIB akronim dari Pengibar, RA berati bendera, KA berati Pusaka. Mulai saat itulah resmi singkatan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka adalah PASKIBRAKA sampai saat ini.
Dirangkum dari Buku Kenangan 25 Tahun 
PASKIBRAKA Direktorat Pembinaan Generasi Muda
Ditjen Diklusepora DepdikbudTahun 1993

Beberapa hari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI pertama. Presiden Soekamo memberi tugas kepada ajudannya,Mayor M. Husein Mutahar untuk mempersiapkan upacara peringatanDetik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1946, dihalaman Istana Presiden Gedung Agung YogyakartaPada saat itu, sebuah gagasan berkelebat di benak Mutahar. Alangkah baiknya bila persatuan dan kesatuan bangsa dapat dilestarikan kepada generasi muda yang kelak akan menggantikan para pemimpin saat itu. Pengibaran bendera pusaka bisa menjadi simbol kesinambungan nilai-nilai perjuangan. Karena itu, para pemudalah yang harus mengibarkan bendera pusaka. Dari sanalah kemudian dibentuk kelompokkelompok pengibar bendera pusaka, mulai dari lima orang pemuda - pemudi pada tahun 1946 —yang menggambarkan Pancasila.Namun, Mutahar mengimpikan bila kelak para pengibar bendera pusaka itu adalah pemuda-pemuda utusan dari seluruh daerah di Indonesia. Sekembalinya ibukota Republik Indonesia ke Jakarta, mulai tahun 1950 pengibaran bendera pusaka dilaksanakan di Istana Merdeka Jakarta. Regu-regu pengibar dibentuk dan diatur oleh Rumah Tangga Kepresidenan Rl sampai tahun 1966. Para pengibar bendera itu memang para pemuda, tapi belum mewakili apa yang ada dalam pikiran Mutahar. Tahun 1967, Husain Mutahar kembali dipanggil Presiden Soeharto untuk dimintai pendapat dan menangani masalah pengibaran bendera pusaka. Ajakan itu, bagi Mutahar seperti "mendapat durian runtuh" karena berarti ia bisa melanjutkan gagasannya membentuk pasukan yang terdiri dari para pemuda dari seluruh Indonesia. tersirat dalam benak Husain Mutahar akhirnya menjadi kenyataan. Setelah tahun sebelumnya diadakan ujicoba, maka pada tahun 1968 didatangkanlah pada pemuda utusan daerah dari seluruh Indonesia untuk mengibarkan bendera pusaka. Sayang, belum seluruhnya provinsi bisa mengirimkan utusannya, sehingga pasukan pengibar bendera pusaka tahun itu masih harus ditambah dengan eks anggota pasukan tahun 1967.Selama enam tahun, 1967-1972, bendera pusaka dikibarkan oleh para pemuda utusan daerah dengan sebutan “Pasukan Penggerek Bendera Pusaka”. Nama, pada kurun waktu itu memang belum menjadi perhatian utama, karena yang terpenting tujuan mengibarkan bendera pusaka oleh para pemuda utusan daerah sudah menjadi kenyataan. Dalam mempersiapkan Pasukan Penggerek Bendera Pusaka, Husein Mutahar sebagai Dirjen Udaka (Urusan Pemuda dan Pramuka) tentu tak dapat bekerja sendiri. Sejak akhir 1967, ia mendapatkan dukungan dari Drs Idik Sulaeman yang dipindahtugaskan ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (dari Departemen Perindustrian dan Kerajinan) sebagai Kepala Dinas Pengembangan dan Latihan. Idik yang terkenal memiliki karakter kerja sangat rapi dan teliti, lalu mempersiapkan konsep pelatihan dengan sempurna, baik dalam bidang fisik, mental, maupun spiritual. Latihan yang merupakan derivasi dari konsep Kepanduan itu diberi nama ”Latihan Pandu Ibu Indonesia Ber-Pancasila”. Setelah melengkapi silabus latihan dengan berbagai atribut dan pakaian seragam, pada tahun 1973 Idik Sulaeman melontarkan suatu gagasan baru kepada Mutahar. ”Bagaimana kalau pasukan pengibar bendera pusaka kita beri nama baru,” katanya. Mutahar yang tak lain mantan pembina penegak Idik di Gerakan Pramuka menganggukkan kepala. Maka, kemudian meluncurlah sebuah nama antik berbentuk akronim yang agak sukar diucapkan bagi orang yang pertama kali menyebutnya. Akronim itu adalah PASKIBRAKA, yang merupakan singkatan dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka. ”Pas” berasal dari kata pasukan, ”kib” dari kata kibar, ”ra” dari kata bendera dan ”ka” dari kata pusaka. Idik yang sarjana senirupa lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) itupun juga segera memainkan kelentikan tangannya dalam membuat sketsa. Hasilnya, adalah berbagai atribut yang digunakan Paskibraka, mulai dari Lambang Anggota, Lambang Korps, Kendit Kecakapan sampai Tanda Pengukuhan (Lencana Merah-Putih Garuda/MPG). Nama Paskibraka dan atribut baru itulah yang dipakai sejak tahun 1973 sampai sekarang. Sulitnya penyebutan akronim Paskibraka memang sempat mengakibatkan kesalahan ucap pada sejumlah reporter televisi saat melaporkan siaran langsung pengibaran bendera pusaka setiap tanggal 17 Agustus di Istana Merdeka. Bahkan, tak jarang wartawan media cetak masih ada yang salah menuliskannya dalam berita, misalnya dengan ”Paskibrata”. Tapi, bagi para anggota Paskibraka, Purna (mantan) Paskibraka maupun orang-orang yang terlibat di dalamnya, kata Paskibraka telah menjadi sesuatu yang sakral dan penuh kebanggaan.Memang pernah, suatu kali nama Paskibraka akan diganti, bahkan pasukannya pun akan dilikuidasi. Itu terjadi pada tahun 2000 ketika Presiden Republik Indonesia dijabat oleh KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Kata ”pusaka” yang ada dalam akronim Paskibraka dianggap Gus Dur mengandung makna ”klenik”. Untunglah, dengan perjuangan keras orang orang yang berperan besar dalam sejarah Paskibraka, akhirnya niat Gus Dur untuk melikuidasi Paskibraka dapat dicegah. Apalagi, Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1958 tentang Bendera Kebangsaan Republik Indonesia, pada pasal 4 jelas-jelas menyebutkan:

(1) BENDERA PUSAKA adalah Bendera Kebangsaan yang digunakan pada upacara Proklamasi Kemerdekaan di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945.
(2) BENDERA PUSAKA hanya dikibarkan pada tanggal 17 Agustus.
(3) Ketentuan-ketentuan pada Pasal 22 tidak berlaku bagi BENDERA PUSAKA. (Pasal 22: Apabila Bendera Kebangsaan dalam keadaan sedemikian rupa, hingga tak layak untuk dikibarkan lagi, maka bendera itu harus dihancurkan dengan mengingat kedudukannya, atau dibakar). Itu berati, bila Presiden ngotot mengubah nama Paskibraka, berarti dia melanggar PP No. 40 Tahun 1958. Presiden akhirnya tidak jadi membubarkan Paskibraka, tapi meminta namanya diganti menjadi ”Pasukan Pengibar Bendera Merah-Putih” saja. Hal ini di-iyakan saja, tapi dalam siaran televisi dan pemberitaan media massa, nama pasukan tak pernah diganti. Paskibraka yang telah menjalani kurun sejarah 32 tahun tetap seperti apa adanya, sampai akhirnya Gus Dur sendiri yang dilengserkan.